بسم الله الرحمن الرحيم
  • Revisi perbaikan Upload Ulang Ktp/KK, bisa dilakukan setelah menerima pemberitahuan di No Whatsapp
  • Info terbaru : Verifikasi guru ngaji akan dilaksanakan secara bertahap mulai bulan Agustus 2026🙏
Informasi

Tolak Tawaran ke Istana

13 Oktober 2026 PGNI Lampung
Dibaca: 146 kali Dishare: 8 kali Pengunjung Hari Ini: 13 orang
Basuki Rahmat: Sahabat Saya Tolak Tawaran ke Istana, Pilih Jalan Sunyi Pengabdian di Kampung

Bagi banyak orang, pintu istana adalah puncak pencapaian tertinggi. Di sana bermuara kekuasaan, kenyamanan, serta kilau fasilitas yang menjanjikan masa depan gemilang.

Ketika kesempatan emas itu datang dan pintu istana terbuka lebar, Basuki Rahmat—seorang kelahiran Kabupaten Way Kanan, Lampung—merasa inilah saatnya dunia menyaksikan kehebatan sahabatnya. Ia dan rekan-rekannya bahkan telah bersiap merayakan pencapaian besar tersebut.

Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. Rasa terkejut, kecewa, hingga amarah sempat menyelimuti perasaan Rahmat akibat keputusan sang sahabat yang di luar dugaan.

"Kami sempat marah dan kecewa. Saya bahkan sempat melontarkan kata-kata kasar kepadanya karena ia menolak tawaran tersebut," ungkap Rahmat.

Sahabat yang dimaksud adalah Ken Setiawan. Di Lampung, namanya cukup familiar di telinga publik. Ia merupakan mantan figur radikalis dan eks buronan polisi yang kini telah bertobat total. Saat ini, Ken memilih hidup bersahaja di sebuah rumah kontrakan sederhana bersama anak dan istrinya.

Rahmat mengingat jelas raut wajah Ken pada malam saat keputusan besar itu diambil. Tidak ada keraguan maupun penyesalan. Ketika ditanya alasan melepaskan kesempatan emas yang diperebutkan banyak orang, Ken hanya tersenyum tipis dan menjawab tenang:

"Aku sadar diri. Aku tidak memahami ilmu politik dan pemerintahan. Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."

Jawaban itu seketika membungkam Rahmat. Ken secara sadar memilih menepi dari gemerlap ibu kota dan berjangkar di Lampung.

Awalnya, tak sedikit rekan dan orang terdekat yang mencibir keputusan tersebut—menganggapnya bodoh dan menyia-nyiakan masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, Rahmat bersaksi bahwa pilihan Ken sama sekali tidak salah.

Berbekal pengalaman dan pemahaman yang diperolehnya dari pesantren, Ken mendedikasikan waktu senggangnya untuk menulis buku serta merangkul para guru ngaji guna membangun literasi anak-anak desa—sebuah gerakan sederhana yang kerap dipandang sebelah mata.

Buku terbaru karya Ken yang cukup menyita perhatian berjudul *Tuhan Kita Sama: Membangun Kesadaran Hubungan dengan Tuhan dan Hubungan dengan Sesama Manusia*.

Kisah perjalanan hidup Ken dan perjuangannya mendirikan NII Crisis Center juga memantik perhatian akademisi. Puluhan mahasiswa dari dalam dan luar negeri menjadikan kisahnya sebagai bahan skripsi hingga disertasi. Beberapa di antaranya bahkan telah dibukukan, seperti:

* *Konstruksi Pemikiran Politik Islam Ken Setiawan* karya Abdul Karim.
* *Cuci Otak NII: Pengakuan Mantan Juru Doktrin NII* karya Gilang Pratama.
* *Mengapa Saya Memilih Negara Islam* karya Dewi Triana.
* *Moderasi Beragama di Indonesia: Peran Negara dan NII Crisis Center dalam Membendung Ekstrimisme dan Terorisme* karya Hariyanto dan Ahmad Zayyadi.

Kapasitas Ken di bidang pencegahan radikalisme membuat pemikirannya diperhitungkan di berbagai level. Ia sering diundang menjadi narasumber seminar kebangsaan dari tingkat nasional hingga internasional. Salah satu kiprah pentingnya adalah saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Baintelkam Mabes Polri bertajuk *"Kolaborasi Penguatan Kerja Sama dalam Rangka Menangkal Ancaman Terorisme"*, yang dihadiri perwakilan dari 15 negara.

Perjalanan transformasi hidup Ken dari paham radikal menuju pemikiran moderat bahkan memikat perhatian rumah produksi BLB Film Production di Lampung. Kisahnya diangkat ke layar lebar melalui film berjudul *Ageman*, yang dijadwalkan tayang perdana pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Basuki Rahmat bercerita, di sela-sela waktu senggangnya, Ken Setiawan menyempatkan datang ke kampung untuk mengajar anak-anak desa. Metode pengajaran ngaji yang diterapkan Ken pun terbilang sebuah terobosan baru. Dibandingkan pengajaran kitab secara konvensional, ia lebih menekankan pada metode dialog dan diskusi interaktif yang menanamkan filsafat serta nilai-nilai kehidupan sejak dini.

Menurut Ken, pengenalan filsafat sejak usia muda sangat krusial untuk membangun pola pikir anak yang kritis, logis, dan reflektif. Melalui stimulasi nalar kritis, anak-anak diajak tidak sekadar menerima informasi secara pasif, tetapi juga menganalisis konsep dan mencari tahu alasan mendasar di balik suatu hal. Pendekatan ini melatih anak berpikir kreatif, mendengarkan pendapat teman sebaya, menghargai perbedaan ide, serta merapikan alur berpikir.

Selain itu, filsafat menjadi sarana ampuh untuk membangun kemampuan pemecahan masalah (*problem solving*). Anak-anak dilatih memilah informasi yang relevan, sekaligus menjadikan filsafat sebagai landasan etika dan moral untuk membentuk kesadaran serta rasa tanggung jawab sejak dini.

Meski begitu, langkah Ken Setiawan tak lepas dari tantangan. Pengenalan filsafat ini sempat menuai penolakan dari masyarakat yang khawatir anak-anak akan ragu terhadap agamanya. Sebab, belajar filsafat biasanya mendorong anak mempertanyakan hal-hal mendasar yang kerap dianggap tabu dalam doktrin tertentu, termasuk konsep ketuhanan, moralitas, dan tradisi. Namun, Ken membuktikan bahwa pendekatan ini justru memperkuat pemahaman kehidupan anak secara komprehensif dan bijak.

Di saat banyak orang berlomba merebut kedudukan di atas, Ken justru memilih membumi dan memberi dampak nyata dari bawah.

"Ia membuktikan bahwa keagungan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diduduki, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi lingkungan sekitarnya," tutur Rahmat.

Jalan yang dipilih Ken memang jalan sunyi—sepi dari sanjungan, penuh peluh, dan keterbatasan. Namun, di dalam kesederhanaan itulah ia menemukan makna sejati dari sebuah pengabdian.

"Saya bangga menyebutnya sebagai sahabat. Ia adalah pengingat hidup bagi kita semua bahwa keputusan paling berani terkadang bukanlah tentang melangkah naik, melainkan melangkah pulang untuk memberi dampak," pungkas Rahmat.
🤖 PGNI Bot ● Online
Assalamu'alaikum! 👋
Saya asisten PGNI Lampung.